Prihatin Nasionalisme
SEJAK Juni lalu, Umar Said diberi amanah
menjadi Kepala SMKN 3 Bondowoso. Begiti masuk ke Bondowoso, dia bertekat
meberikan warna yang berbeda. Artinya keberadaanya harus membawa perubahan.
Karena itu, awal kali dia ingin mengajakpeserta
didik baru untuk meningkatkan rasa Nasionalisme.
Karena itu,
umar menggandeng pihak 514 untuk membina peserta didik baru. Ada sekitar 400
peserta didik pada 2017 ini. Yng nenjadi keprihatinannya, ternyata ketika di
tes untuk membacakan Pancasila, hamper dari setengah anak-anak ini salah. “
Yang paling banyak saat membacakan sila ke empat, dan ada juga yang mulai pertama
salah. Sperti kata Pancasila sudah dihitung satu,” jelasnya.
Tes kedua yang
diberikan adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di sesi ini, ada sekitar 25
persen anak yang tidak bisa membawakan lagu kebangsaan mereka. Hal tersebut
tentu menjadi masalah yang serius. Mengingat anak muda banyak yang tidak
mengindahkan Nasionalismenya.
“Akhirnya anak-anak baru ini di karantina, tidak
boleh membawa handpone dan didiklat selama tiga hari,” terang mantan kepala
SMKN 1 Situbondo tersebut.
Diklat nasionalis itu, demi menumbuhkan rasa disiplin.
Sebab permasalahan siswa, ketika hal sepele sudah tidak diindahkan, maka hal
sepele lain juga akan menjalar. Misalnya adat ketimuran. Seperti pamitan ke
orang tua saat berangkat kesekolah atau keluar rumah . “Sebab banyak juga yang tidak mengacungkan
tangan ketika ditanya siapa yang pamit ke orang tua saat mau keluar rumah ,”
tegasnya. (hud/wah)
Sumber : Jawa Pos
(Radar Ijen)
Edisi : Senin 14 Agustus 2017
diketik ulang oleh : Hafiki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar