Jumat, 26 Januari 2018

UMAR SAID



                                                                      
                                                Prihatin Nasionalisme


 SEJAK Juni lalu, Umar Said diberi amanah menjadi Kepala SMKN 3 Bondowoso. Begiti masuk ke Bondowoso, dia bertekat meberikan warna yang berbeda. Artinya keberadaanya harus membawa perubahan. Karena itu, awal kali dia ingin mengajakpeserta  didik baru untuk meningkatkan rasa Nasionalisme.

  Karena itu, umar menggandeng pihak 514 untuk membina peserta didik baru. Ada sekitar 400 peserta didik pada 2017 ini. Yng nenjadi keprihatinannya, ternyata ketika di tes untuk membacakan Pancasila, hamper dari setengah anak-anak ini salah. “ Yang paling banyak saat membacakan sila ke empat, dan ada juga yang mulai pertama salah. Sperti kata Pancasila sudah dihitung satu,” jelasnya.

  Tes kedua yang diberikan adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di sesi ini, ada sekitar 25 persen anak yang tidak bisa membawakan lagu kebangsaan mereka. Hal tersebut tentu menjadi masalah yang serius. Mengingat anak muda banyak yang tidak mengindahkan Nasionalismenya.


“Akhirnya anak-anak baru ini di karantina, tidak boleh membawa handpone dan didiklat selama tiga hari,” terang mantan kepala SMKN 1 Situbondo tersebut.

Diklat nasionalis itu, demi menumbuhkan rasa disiplin. Sebab permasalahan siswa, ketika hal sepele sudah tidak diindahkan, maka hal sepele lain juga akan menjalar. Misalnya adat ketimuran. Seperti pamitan ke orang tua saat berangkat kesekolah atau keluar rumah .  “Sebab banyak juga yang tidak mengacungkan tangan ketika ditanya siapa yang pamit ke orang tua saat mau keluar rumah ,” tegasnya. (hud/wah)

   Sumber                : Jawa Pos (Radar Ijen)
  Edisi                    : Senin 14 Agustus 2017
diketik ulang oleh : Hafiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar